Thursday, 21 May 2015

Penasaran yang Merenggut Jiwa

Dari kemarin telingaku tak henti-hentinya mendengar
percakapan kedua temanku. Raut muka mereka bervariasi. Kebanyakan akan melototkan mata. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka begitu. Sampai akhirnya aku mendengarkan semua dengan jelas.
Ada sesuatu di tangga itu.
Selama hampir satu tahun aku duduk di SMA, baru kali ini aku mengetahuinya. Dan kini rasa penasaranku meluap. Aku berniat untuk mendatangi tangga itu. Sendirian.
Rasa takut ini mendadak muncul. Ditambah langit mulai menggelap. Aku berjalan pelan menghilangkan jejak suara.
Baru sampai belokan, sebuah tangan tahu-tahu menyentuh pundakku. Lantas aku berhenti sejenak. Kuketahui bahwa jantung ini sudah berdetak tak karuan. Aku memutar badan hati-hati berharap bahwa dia adalah manusia.
"Tea, ngapain kamu disini?"
Ternyata itu adalah Dean. Dean sang pengusil ulung.
"Bukan urusanmu!" Jawabku ketus.
"Aku tahu, kamu pasti mau cari tahu kan tentang 'itu'?" Selain usil, dia juga cerdik.
Aku hanya menggumam tak jelas. Disaat itu juga langkah orang berlari menusuk telingaku. Aku menengok kebelakang Dean. Rena dan Axel. Mereka belum pulang?
Rena memukul dadanya pelan berulang kali, "astaga, aku lelah. Tea, kamu kemana aja? Kita nyariin kamu lho."
"Iya Tea, kamu kemana aja?" Timpal Axel.
Jujur saja, aku merasa aneh sekali. Dan keadaan ini membuatku memijit dahi.
"Lebih baik kalian pulang. Ini sudah hampir malam. Jam 6 kurang," ucapku begitu selesai melihat jam.
Rena menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkan sahabatku sendirian di sekolah malam-malam."
"Ya, Sebenarnya apa yang kamu cari Tea?"
"Aku..."
"Kalian tidak tahu? Wah, wah, sahabat macam apa itu? Tea itu sedang menuju tangga besar!" Tiba-tiba saja Dean berujar membuatku mendelik kesal.
Mata Rena membulat, lebar. Aku menghela napas sepertinya aku harus menjelaskannya.
***
"Jadi Tea, kita akan kesana dan menyelidikinya? Sungguh?"
Suara pelan Rena kubalas dengan anggukkan. Tentu saja aku akan kesana. Karena aku penasaran.
"Baiklah, kalau gitu kita siap-siap."
Aku melirik Dean yang mengerlingkan matanya padaku. Menyebalkan.
Kini aku, bersama Rena, Axel dan si usil Dean berjalan menuju tangga besar. Ah ya, entah dapat darimana, Dean membawa senter.
Perjalanan ini mencekam. Aku tak pernah tahu bahwa sekolah ini mengerikan. Tak ada lampu yang menerangi. Dan semua seakan membutakan mataku. Walaupun ada sedikit cahaya dari senter.
Aku melirik kedepan, melihat siluet seseorang berjalan kearah kami. Lantas aku menarik Dean dan lainnya untuk merapat. Apa itu Pak Satpam? Tapi ini sudah malam dan biasanya mereka hanya berjaga diluar.
Tak ada suara apapun. Aku menghela napas lega.
Tanganku bergerak mengajak mereka untuk jalan kembali.
"Kita sudah sampai. Ya, itu dia Tangganya," ucap Dean begitu kita sudah sampai.
Perlu diketahui, tangga ini memang jarang dipakai. Dan kita semua tidak tahu lorong ini membawa kemana. Aku mengusap tengkuk yang mendadak merinding.
"Ayo kita naiki." Aku melangkah maju menaiki undakan itu yang diikuti oleh teman-temanku.
Satu langkah, dua langkah, aku tak merasakan apa-apa. Tiga langkahpun begitu. Sepertinya aku ditipu.
Aku menaiki kembali. Dan aku tidak tahu bagaimana, latar sekolah berubah. Semua, berganti menjadi tempat berisikan mayat. Aku berjengit kaget. Takut.
Aku melirik kearah teman-temanku. Tapi mereka tak ada! Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tea... hihihi... kemari nak, kemarilah."
Seorang wanita berdandan serba putih melayang dan tanpa badan! Aku mundur. Mulutku terasa kaku. Matanya menyiratkan kebencian. Merah.
"Kemarilah nak..."
Aku menggeleng dan lari.
"Mau lari kemana kamu? Akan kupastikan kamu tidak bisa lari."
Wanita itu muncul kembali didepanku dengan membuka mulutnya lebar--sangat lebar. Giginya runcing dan besar.
"Aku akan memakanmu! Hihihihi...."
Aku hanya tahu bahwa wajahku telah ditelan olehnya.

No comments:

Post a Comment